MAKALAH
IMAN
KEPADA QADHA DAN QADHAR Allah
Disusun
oleh :
1.
Wilsi Daini(1911330032)
Dosen
Pembimbing :
Hendri
Firmansyah,M.Pd
PRODI
MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang mana telah memberikan kami semua
kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan makala berjudul “ iman kepada
qadha dan qadhar allah dapat selesai
seperti waktu yang telah kami rencanakan.
Terimah kasih juga kami ucapankan kepada dosen pembimbing
dan teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-ide nya sehingga
makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Kami berharap semoga makalah ini
bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya
makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.
Bengkulu,13
Desember 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………..ii
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………iii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................ 2
A.
Pengertian Iman Kepada Qadha Dan Qadhar
Allah............................ 2
B.
Urgensi Beriman Kepada Qadha Dan Qadhar..................................... 2
C.
Manusia Wajib Berikhtiar..................................................................... 6
D.
Macam – macam takdir........................................................................ 9
E.
Hikma kepada qadha dan qadar........................................................... 10
BAB
III PENUTUP......................................................................................... 12
A.
Kesimpulan........................................................................................... 12
B.
Saran..................................................................................................... 12
Daftar
pustaka.................................................................................................. 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara
umum aqidah ilmu kalam membahas tentang ajaran-ajaran dasar dari suatu agama.
Aqida ilmu kalam in mempelajari kaidah /
teologi yang akan member seseorang keyakinan-keyakinan yang berasarkan pada
landasam yang kuat, yang tidak mudah diombang ambingkan oleh peredaran zaman.
Secara
khusus ilmu kalam juga membahas tentang rukun-rukun iman yang mencakup materi
dari iman kepada allah ,iman kepada malaikat allah , iman kepada kitab-kitab
allah, iman kepada rasul-rasul allah, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qadha dan qadar allah.
Dalam
sehari hari kita harus menerapkan ilmu aqida dengan baik, agar ilmu yang kita
dapatkan bisa bermanfaat dan juga bisa
menjadikan keuntungan bagi diri kita
maupun diri orang lain, disini kami akan menjelaskan aqidah ilmu kalam yang
membahas tentang iman kepada Qadha dan Qadarnya Allah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Pengertian Iman Kepada Qadha Dan Qadar Allah ?
2. Bagaimana
Urgensi Beriman Kepada Qadha Dan Qadar Allah ?
3. Bagaimana
Manusia Wajib Berikhtiar ?
4. Apa
Saja Manfaat Ridha Kepada Qadha Dan Qadar Allah?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk
Mengetahui Pengertian Iman Kepada Qadha Dan Qadar Allah.
2. Untuk
Mengetahui Urgensi Beriman Kepada Qadha
Dan Qadar Allah
3. Untuk
Mengetahui Manusia Wajib Beriktiar
4. Untuk
Mengetahui Manfaat Ridha Kepada Qada Qadar Allah.
BAB
I
PEMBAHASAN
A. Pengertian Iman Kepada Qadha Dan
Qadar Allah
Qadha menurut ilmu tauhid memiliki
pengertian yaitu sesuatu yang sudah terjadi atau telah terjadi pada seseorang , artinya kejadian tersebut
telah dilakukan. Qadar menurut ilmu tauhid adalah sesuatu yang telah ditentukan
oleh allah SWT. Kepada hambanya baik bersipat perseorangan maupun golongan baik
tentang nasib ataupun tentang peraturan-peraturan yang ditetapkan.
Ada
pula pendapat yang mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan qadha dan qadar
adalah kehendak allah yang azali untuk menciptakan sesuatu dalam bentuk
tertentu disebut qadha, Kemudian mewujudkannya atau merealisasikannya dalam
kehidupan nyata yang kongkrit sesuai dengan kehendak yang azali itu disebut
qadar. Namun sebagian ulama mengatakan sebalik nya, mereka berpendapat bahwa
qadar ialah rencana atau ketentuan allah dalam azali dan qadha adalah
pelaksananya dalam kehidupan nyata.[1]
Dia
mengetahui takdir seluruh hambanya mengetahui tentang rizki ajal amal dan yang
lain nya, dapat kita simpulkan qadar adalah perkara yang telah dikethui dan
telah dituliskan oleh allah dari hal-hal yang akan terjadi hingga akhir zaman
nanti, ahlussunnah wal jamaah berkeyakinan bahwa qadar itu adalah rahasia allah
dalam penciptaannya tidak ada yang mengetahui sekali pun malaikat yang dekat
dengan allah.
B. Urgensi Beriman Kepada Qadha Dan
Qadar
Iman
kepada qadha dan qadar adalah salah satu
rukun iman dalam islam. Berikut ini hikmah beriman kepada qadha dan qadar :
a) Termasuk orang beriman
Untuk masuk ke dalam golongan orang beriman tentu harus memiliki rasa iman kepada qada dan qadar.
Dari
Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu,
قَالَ : صَدَقْتَ
فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ
الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun
heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, “Beritahukan
kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada
para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang
buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” (HR. Muslim, no. 8)
b)
Lebih Banyak Bersyukur
Mereka yang beriman kepada qada dan qadar adalah orang yang akan
lebih banyak bersyukur.
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ
ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya)
dari Allâh, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu
meminta pertolongan.” [An-Nahl/16:53]
c)
Sabar
Beriman
kepada qada dan qadar juga akan meningkatkan kesabaran. Ia akan menyadari bahwa
segala sesuatunya yang terjadi adalah ketetapan dari.
Allah SWT dan hanya Allah yang mengetahui apa
yang terbaik untuk hambaNya.
وَمِنْ آيَاتِهِ
الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ
فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ
صَبَّارٍ شَكُورٍ
“Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal
(yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan
menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi
setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. [Asy-Syura : 32-33]
d)
Selalu Berusaha
Keimanan
kepada qada dan qadar membuat seseorang akan selalu berusaha melakukan yang
terbaik. Dengan usaha dari seorang manusia, maka Allah akan memberikan jalan
yang ringan baginya. Allah Maha Adil pada setiap hal yang dilakukan oleh
hambaNya. Allah berfirman dalam At Taubah ayat 105,
وَقُلِ اعْمَلُوا
فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ
إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
e)
Terhindar Dari Sifat Sombong
Hikmah
selanjutnya yang akan didapatkan dari beriman kepada qada dan qadar adalah
terhindar dari sifat sombong. Segala yang terjadi pada kita, baik maupun buruk
adalah ketetapan dari Allah sehingga sudah seharusnya kita tidak bersifat
sombong.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلاَ تُصَعِّرْ
خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ
كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.
Luqman:18).[2]
6. Selalu berharap pada Allah
Tidak akan pernah putus asa dari rahmat Allah SWT seseorang yang
beriman kepada qada dan qadar karena ia percaya bahwa Allah akan selalu
memberikan yang terbaik bagi tiap orang yang beriman.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ
الْكَافِرُونَ
“Sesungguhnya tiada
yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87)
7. Jiwa yang tenang
Beriman kepada qada dan qadar akan membuat jiwa menjadi lebih
tenang. Hidupnya akan jauh dari kesusahan. Bahkan meski ujian yang ia hadapi
sangat sulit, namun keyakinannya pada takdir Allah akan membuatnya selalu
merasa tenang dan damai.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah.
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs.
ar-Ra’du: 28).
8. Lebih tawakal
Hikmah lain dari beriman pada qada dan qadar adalah mampu
menjadi lebih tawakal. Kita akan menjadi lebih iklas dan rela menerima setiap
keputusan Allah SWT. Allah berfirman,
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada
Allah-lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (QS.
Al-Maidah : 23).
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah, maka Dialah Yang Mencukupinya” (QS. Ath-Thalaq: 3).
Itulah beberapa hikmah yang bisa didapatkan dari beriman kepada
qada dan qadar. Demikianlah artikel yang singkat ini. Semoga artikel ini
bermanfaat dan menambah keimanan kita kepada Allah SWT. Aamiin.
c. manusia wajib berikhtiar
Manusia dalam melakukan sesuatu
seolah-oleh mereka memiliki kebebasan di dalam setiap tindakannya, namun
ternyata di dalam kebebasan manusia bertindak ada campur tangannya dengan
kehendak Allah SWT.. Dan kedua hal ini sangat berkaitan sekali.[3]
Takdir tentang penciptaan dan
pencatatannya itu sudah terdapat di dalam Al-Lauhul Mahfuzh (papan yang
terjaga) sebagaimana ketentuan dalam menetapkan adanya penciptaan tentang
kadarnya, tatacaranya, sifatnya, masanya, tempatnya, sebabnya, pendahuluannya dan
kesimpulannya. Tak ada satupun yang melenceng dari ketentuan-Nya tersebut. Hal
ini terjadi karena luasnya ilmu yang dimiliki Allah SWT. Dia mengetahui segala
hal baik yang akan terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang sudah terjadi.
Allah juga mengetahui bagaimana sesuatu itu akan terjadi, bagaimana prosesnya,
dan bagimana akhirnya. Kemahakuasaan Allah sangat luas dan Agung, tak ada yang
mempu membatasi maupun yang melemahkannya. Sesuatu yang sudah dikehendaki Allah
itu pasti ada dan sesuatu yang tidak dikehendakinya itu pasti tidak ada.[8]
Selain itu, karena melekatnya
Allah dengan benda yang maujud dengan aturan sunnatullah. Beliau yang menetapkan
segala bagian alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah dengan
seimbang. Keduanya itu, adalah qadha’ dan qadar. Qadha’ dan qadar ini tidak
boleh diingkari kecuali oleh orang-orang yang sombong dan menentang atau orang
bodoh yang membangkang.
Dalam hal ini, manusia memiliki
kebebasan dalam usahanya, do’a, dan ikhtiarnya, namun pada nantinya di hasil
akhir nanti Allah lah yang menentukan. Di setiap hal yang dialami oleh manusia
terdapat takdir Allah yang merupakan ketentuan terbaik darinya yang telah
disusun-Nya.
Dalam membahas tentang takdir ini banyak
sekali aliran yang berbeda pendapat mengenai hal ini, diantara aliran yang
paling menonjol dalam membahas takdir yaitu aliran Jabariyah dan Qadariyah.
Di dalam aliran jabariyah
dijelaskan bahwa manusia tidak menciptakan perbuatannya dan apa yang mereka
lakukan itu tidak pantas dikaitkan kepadanya kecuali dengan majaz, yaitu kaitan
perbuatan, bukan kaitan usaha alternatif dan kaitan kehendak. Karena menurut
mereka perbuatan itu adalah perbuatan Allah yang dilaksanakan melalui tangan
hamba-hamba-Nya tanpa adanya kehendak dari hamba. Mereka memiliki ketetapan
aqidah bahwa hamba tidak disiksa dan perbuatannya tidak dicela meskipun dalam
tataran kejelekan maupun hal yang tercela. Aliran Jabariyah ini sangat
bertentangan sekali dengan prinsip yang dimiliki oleh aliran qadariyah yang
berpendapat bahwa hamba selalu berdiri sendiri dengan bebas menciptakan
perbuatannya. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa hamba itu menjadi Tuhan
yang meciptakan perbuatan yang Dia kehendaki. Dengan demikian menjadikan tauhid
yang merupakan pokok agama menjadi batal.[9]
Dan ada pula golongan
Ahlussunnah wal Jama’ah, dimana tokoh-tokoh dari aliran ini mengambil jalan
tengah dengan memadukan dua aliran yang bertentangan tersebut. Menurut aliran
ini, manusia itu merupakan makhluk Allah yang paling sempurna dengan
diberikannya akal kepada mereka. Kehendak dan kuasa yang ada pada dirinya dalam
melakukan amal perbuatannya dalam batas kemungkinan, tidak dalam hal yang
mustahil. Akan tetapi, usaha dan tindakan yang dilakukan manusia ini tidak
berkesan dan kesannya hanya sebagai kerja sebab dan akibat, buak kesan yang
haqiqi, karena penbuat kesan yang haqiqi adalah qurah Allah SWT.. Jadi, inti
dari aliran ahlussunnah wal jamaah ini adalah orang boleh berusaha dan membuat
rencana, tetapi hanya Allah yang akan menentukan hasil akhirnya kelak.[10]
Manusia dapat mengerjakan
perbuatan sebagaimana semua makhluk dengan beban perbuatan yang diberikan
Allah. Perbedaan antara manusia dan semua makhluk adalah manusia diberi
kesempatan untuk bisa berusaha dan berikhtiyar karena adanya illat taklif
(beban) dan pembalasan. Manusia itu juga sangat berbeda dengan makhluk lain.
Makhluk lain tidak mendapatkan balasan atas apa yang mereka kerjakan dan
perbuat, karena mereka tidak diberi kehendak bebas dan berikhtiyar. Denga
demikian, jika ia ingin berbuat, maka ia berbuat. Dan bila mereka ingin
meninggalkan, maka ia meninggalkan. Manusia akan sampai pada tujuannya dengan
sesuatu yang telah mereka kehendaki berupa amal dan dia mengikhtiyarinya untuk
dirinya dengan murni (absolutasi) kehendak dan ikhtiyarnya. Oleh karena itu,
seandainya hamba dipaksa untuk beramal, maka dia tidak dihisab dan tidak
mendapat balasan berupa pahala dan celaan, karena mereka tidak berkehendak secara
bebas dan tidak berikhtiyar secara sempurna. Dengan demikian, bagi orang yang
memperoleh taufik dapat bekerjasama antara eksistensi aktivasi hamba yang telah
ditentuakn oleh Allah secara azali kepada hamba yang berbuat dan antara
eksistensi hamba yang berkehendak dan berikhtiyar untuk perbuatannya, mereka
akan disiksa karena kejahatannya, dan akan diberi pahala karena amal
kebaikannya.[11]
MACAM-MACAM TAKDIR
Takdir terbagi menjadi dua bagian,yakni:
a. Takdir Mu’allaq
Takdir mu’allaq adalah takdir Allah SWT atas makhluknya yang memungkinkan dapat
berubah karena usaha dan ikhtiar manusia. Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib
suatu kaum sehingga mereka itu mengubah nasibnya sendiri.” (Ar-Radu : 11)
Contoh :
1) Miskin bisa jadi kaya,
lantaran bekerja keras
Allah berfirman :
Artinya : “Dan katakanlah(hai Muhammad) :
Bekerjalah kamu semua, maka Allah dan Rasulnya serta orang mukmin akan melihat
hasil pekerjaanmu.’ (At- Taubah ayat 105)
2) Bodoh Menjadi Pintar ,
lantaran mau belajar giat
Rasullulah SAW bersabda yang artinya : “Belajarlah kamu
sekalian, ajarkanlah bertawakal kamu kepada guru, serta lemah lembutlah kamu
kepada murid.” (H.R. Tabrani)
3) Orang sakit bisa menjadi
sembuh, lantaran berobat dan berdoa
Allah berfirman :
Artinya : “Berdoalah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan
mengabulkan permohonanmu.” (Al-Mu’minun ayat 60)
b. Taqdir Mubram
Takdir mubram ialah takdir yang pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan
kejadiannya. Contohnya nasib manusia, lahir, kematian, jodoh, rizkinya, dan
terjadinya kiamat dan sebagainya. Qada’ & qadar Allah SWT yang berhubungan
dengan nasib manusia adalah rahasia Allah SWT, hanya Allah SWT yang
mengetahuinya. Manusia diperintahkan mengetahui qada’dan qadarnya melalui usaha
dan ikhtiar. Kapan manusia lahir, bagaimana statusnya sosialnya, bagaimana
rizkinya ,siapa anak istrinya,dan kapanya meninggalnya,adalah rahasia Allah
SWT. Jalan hidup manusia seperti itu sudah ditetapkan sejak zaman azali yaitu
masa sebelum terjadinya sesuatu atau massa yang tidak bermulaan. Tidak seorang
pun yang mengetahuinya.[4]
D. Hikmah Kepada Qada’
Dan Qadar
1. Mendorong orang muslim bekerja keras dan berjuang untuk
meningkatkan harkat dan martabatnya di bumi dan dapat dijadikan suatu daya
ruhani yang dapat memperteguh hubungannya dengan Allah pencipta alam dan
semestanya.
2. Menanam keberanian dalam dirinya untuk untuk membela
kebenaran dan melaksanakan kewajibannya.
3. Membuat manusia sadar bahwa segala apa yang ada di alam semesta
ini berjalan mengikuti ketentuan Allah Yang Maha Bijaksana.
4. Takdir menuntut orang beriman untuk berusaha dan bekerja, lalu
bertawakal dan akhirnya bersyukur karena Allah atas karunia-Nya dan bersabar
atas cobaan dan ujian yang menimpanya.[5]
5. Memperoleh hasil yang mengalir
dan buah yang baik.
6. Memperoleh kekuatan watak dan
keteguhan hati.
7. Memperoleh ketenangan hati.
8. Akan terlepas dari kebingunagan
dan kegelisahan pada dirinya, yang terwujud hanya keberanian yang kuat untuk
mngedepankan urusan tanpa ada ketakutan, kecemasan, dan keragu-raguan.
9. Menjadi manusia yng bersih jiwanya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Qadha’ adalah merupakan
realisasi atau pelaksanaan dari rencana Allah yang telah disusun, dan qadar
merupakan rencana atau ketentuan yang Allah susun untuk direalisasikan kepada
kehidupan nyata ini. Oleh karena itu, banyak sekali perbedaan pendapat mengenai
kebebasan manusia. Manusia memiliiki kebebasan dalam bertindak, namun dalam
setiap tindakannya Allah memberikan aturan tersendiri, yang memberikan batasan
disetiap tindakan yang dilakukan oleh manusia. Manusia memiliki kewajiban untuk
berusaha (ikhtiar), do’a, dan kemudian akhirnya mereka bertawakkal kepada Allah
SWt., dan hasilnya ini merupakan takdir dari allah SWT.. Dengan kita
mempercayai atau beriman kepada Qadha’ dan Qadar maka kita akan memiliki
ketenangan dalam menjalani hidup ini dan mengurangi sifat kufur atas nikmat
Allah SWT.
B. Saran
Sebaiknya
dalam menyikapi takdir Allah dengan penuh ikhlas tanpa mengeluh karena apa yang
telah ditakdirkan Allah untuk itu adalah yang terbaik. Akan tetapi, takdir itu
dapat berubah selama kita mau berusaha dan selalu berikhtiar kepada Allah SWT.
serta tidak lupa untuk senantiasa berdo’a hanya kepada Allah bukan kepada
selain-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Baiquni,( 1995 )Kamus Istilah Agam Islam, Surabaya:
Arkola.
Ahmad Daudy, (1997)kulia aqida islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1997), hlm:156.
Al-Atsari,A. B (2005).Panduan
Akidah Lengkap. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.hlm:44
Baiquni. (1995). Kamus Istilah Agama Islam.Surabaya:
Arkola.hlm:38
Hidayat, N. (2015). Akidah Akhlak dan Pembelajarannya. Yogyakarta:Penerbit Ombak.hlm:64
[1] Abu Baiquni, Kamus Istilah Agam Islam, Surabaya:
Arkola. Hal. 21
[2] Ahmad Daudy, kulia aqida islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1997), hlm:156.
[3] Al-Atsari,A. B (2005).Panduan
Akidah Lengkap. Bogor: Pustaka Ibnu Katsir.hlm:44
4 Baiquni. (1995). Kamus Istilah Agama Islam.Surabaya: Arkola.hlm:38
[5] Hidayat, N. (2015). Akidah Akhlak dan Pembelajarannya.
Yogyakarta:Penerbit Ombak.hlm:64
Komentar
Posting Komentar